Sabtu, 24 Mei 2025

"Di Antara Gelap dan Kelam" : Refleksi dari Prolog Laut Bercerita



"Matilah engkau mati. Kau akan lahir berkali-kali..."

Ehh Halloo Sahabatt balik lagii nihh hihiii...

Aku harap kalian semua dalam keadaan baik, tenang, dan waras di tengah riuhnya hidup yang kadang nggak kasih jeda. Di tulisan kali ini, gue pengen ngobrolin sesuatu yang mungkin agak berat, tapi sebenarnya deket banget sama hidup kita: tentang gelap, tentang jatuh, tentang harapan yang tipis-tipis tapi masih nyala. Aku baru aja selesai baca (lagi) "Laut Bercerita" karya Leila S. Chudori, dan prolognya tuh... nggak tau kenapa, dalem banget. Jadi, yuk duduk sebentar, ambil napas, dan mari kita selami bareng-bareng sedikit bagian dari novel itu—siapa tau, ada yang nyentuh hati kalian juga.

Ada satu bagian dari prolog Laut Bercerita yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang di kepala gue:

"Matilah engkau mati. Kau akan lahir berkali-kali..."

Kalimat itu kayak tamparan pelan, tapi dalam. Bukan cuma tentang mati secara fisik, tapi tentang gimana hidup itu penuh siklus—jatuh, bangkit, jatuh lagi, dan (semoga) bangkit lagi.

Tokoh utama di novel ini, Laut, ada di titik paling gelap dalam hidupnya—disekap, disiksa, ditarik ke ujung kematian. Tapi justru di situ, dia malah mikir... bisa nggak sih dia bangkit lagi? Masih ada nggak harapan setelah semua dihancurkan?

Dan jujur, itu ngena banget. Karena kita semua pasti pernah ngerasa kayak gitu. Di satu titik hidup, kita pernah merasa kayak: "Udah deh, ini gelap banget. Kayaknya gue nggak bisa lanjut."

Tapi, bedanya gelap dan kelam itu penting. Gelap masih ada harapan, masih bisa nerobos jadi terang. Tapi kelam? Kelam itu saat kita nyerah. Saat kita ngerasa hidup udah nggak bisa dipertahankan.

Laut ngomong, “Aku tak tahu apakah aku sedang mengalami kegelapan... atau kekelaman.”

Dan di situ aku diemm. Karena kadang kita juga bingung—kita bener-bener terpuruk, atau cuma lagi ngelewatin malam yang panjang?

Prolog ini bukan cuma cerita soal kematian. Tapi juga tentang keberanian buat berharap, bahkan saat semua rasanya udah hilang. Tentang harapan yang nggak teriak-teriak, tapi pelan, diam-diam, masih nyala di pojokan hati.

Aku pikirrr, mungkin itu yang dimaksud “lahir berkali-kali.”
Bukan soal hidup lagi secara harfiah. Tapi tentang terus muncul lagi di ingatan orang, di cerita-cerita, di perjuangan yang nggak selesai.

Dan semoga, saat kita jatuh, kita juga bisa lahir lagi. Berkali-kali. Meski perlahan. Meski luka.

Nah gimana sahabatt... Itu baru prolognya aja lohh, dan jujur aja, rasanya udah kayak dihantam ombak besar—pedih, perih, tapi juga jujur dan membekas. Tapi perjalanan Laut belum selesai. Masih ada luka-luka lain yang diceritakan, perlawanan yang pelan-pelan tumbuh, dan cinta yang diam-diam ikut berlayar

Di bab berikutnya, gue bakal bahas gimana persahabatan, idealisme, dan keberanian anak-anak muda di masa itu bikin kita nggak bisa duduk tenang.


Jadi Sahabatt, jangan kemana-mana yaa!!!—Seeyouu Nexttimee .!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"Kita Gak Bisa Lagi Cuma Diam: Kekerasan Seksual di Pesantren Bukan Tabu untuk Dibahas"

  "Kita Gak Bisa Lagi Cuma Diam: Kekerasan Seksual di Pesantren Bukan Tabu untuk Dibahas" Haloo Sahabatt...Akhir-akhir ini ramai ...